
ABSTRAK
Kemunculan kecerdasan buatan (AI) generatif seperti ChatGPT telah membawa perubahan radikal dalam cara siswa berinteraksi dengan pengetahuan. Di balik kemudahan yang ditawarkan, tersimpan ancaman serius: otak manusia, khususnya otak yang sedang berkembang, berpotensi menjadi “malas berpikir” akibat ketergantungan berlebih pada AI. Esai ini mengkaji secara ilmiah fenomena cognitive offloading, cognitive atrophy, dan lazy brain syndrome dalam konteks penggunaan AI oleh pelajar. Dengan mengintegrasikan data PISA 2022, riset neurosains terkini, dan kondisi literasi Indonesia yang memprihatinkan, esai ini membuktikan bahwa masalah ini bukan sekadar wacana, melainkan krisis nyata yang membutuhkan respons kebijakan segera.
Indonesia, dengan skor PISA membaca 359 (peringkat ke-68 dari 81 negara), berada dalam posisi yang sangat rentan. Namun AI juga menyimpan potensi transformatif jika digunakan secara tepat. Esai ini menawarkan kerangka solusi berbasis bukti yang disebut AI-Augmented Critical Thinking Framework (AACTF) sebagai jalan tengah yang menjadikan AI sebagai mitra berpikir, bukan pengganti berpikir.
Kata Kunci: Kecerdasan Buatan, Cognitive Offloading, PISA 2022, Literasi Indonesia, Pendidikan Kritis, Lazy Brain Syndrome