Artikel - Kurikulum

Dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka: Apa yang Benar-Benar Berubah?

Struktur yang Berubah: Selamat Tinggal, Peminatan

Bagi siswa SMA, perubahan paling terasa mungkin adalah dihapusnya sistem peminatan. Di bawah K-13, seorang siswa kelas X sudah harus memilih jalur: IPA, IPS, atau Bahasa. Pilihan itu bersifat mengikat. Seorang pelajar di jurusan IPA yang ternyata tertarik pada ekonomi harus rela belajar sendiri di luar jam sekola karena secara kurikuler, pintu itu tertutup.

Kurikulum Merdeka membuka pintu itu. Di kelas X (fase E), semua siswa mendapat fondasi yang sama. Di kelas XI dan XII (fase F), mereka baru memilih mata pelajaran sesuai minat dan proyeksi studi lanjut. Seorang siswa kini bisa mengombinasikan fisika dengan sosiologi, atau matematika tingkat lanjut dengan seni teater kombinasi yang dulu hanya ada dalam angan.

Di SMK, perubahan bersifat lebih pragmatis. Mata pelajaran adaptif dan normatif dipangkas, sementara jam praktik diperluas. Logikanya sederhana: sekolah kejuruan seharusnya menghasilkan lulusan yang siap kerja, bukan semata hafal teori.

Dari “Bagaimana Mengajar” ke “Apa yang Dicapai”

Salah satu titik gesekan terbesar dalam K-13 adalah kekakuan pendekatan saintifik. Para guru dituntut mengikuti urutan 5M dalam setiap pertemuan, yang tercermin dalam format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang tebal dan penuh kolom. Akibatnya, banyak guru yang lebih fokus pada pemenuhan format daripada kualitas pembelajaran itu sendiri.

Kurikulum Merdeka menggeser orientasi ini secara mendasar. Yang kini menjadi acuan bukan lagi urutan langkah mengajar, melainkan Capaian Pembelajaran (CP) kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa di akhir setiap fase. Bagaimana guru mencapainya, itu terserah mereka. Boleh dengan project-based learning, boleh dengan pembelajaran berdiferensiasi, boleh dengan diskusi selama CP tercapai.

RPP pun disederhanakan menjadi modul ajar yang lebih ringkas. Guru bahkan boleh menggunakan modul yang sudah tersedia di platform Merdeka Mengajar, atau memodifikasinya sesuai kebutuhan kelas. Ini adalah pergeseran dari budaya compliance menuju budaya trust;  kepercayaan bahwa guru tahu apa yang terbaik untuk muridnya.

Pages: 1 2 3 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *