Artikel - Kurikulum

Dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka: Apa yang Benar-Benar Berubah?

Asesmen yang Lebih Manusiawi

Di sinilah salah satu perubahan paling substansial terjadi.

K-13 mengharuskan guru mendokumentasikan penilaian dalam tiga ranah secara terpisah: sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Setiap ranah memiliki formatnya sendiri, dan rapor harus memuat nilai angka sekaligus deskripsi naratif untuk setiap mata pelajaran. Guru dengan dua puluh kelas bisa menghabiskan berminggu-minggu hanya untuk mengisi rapor.

Kurikulum Merdeka menyederhanakan struktur ini. Penilaian dibagi menjadi dua: asesmen formatif yang berfungsi memantau perkembangan belajar secara berkelanjutan, dan asesmen sumatif yang mengukur pencapaian di akhir unit atau semester. Format rapor pun lebih ramping.

Yang tak kalah signifikan adalah hilangnya Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan. Posisinya digantikan oleh Asesmen Nasional, yang tidak menilai individu siswa, melainkan mengukur kualitas sistem pendidikan sekolah, guru, dan ekosistemnya melalui instrumen literasi dan numerasi. Tekanan pada siswa berkurang; tekanan pada sistem pendidikan justru meningkat, dan itulah yang seharusnya.

P5: Ketika Karakter Bukan Sekadar Kolom di Rapor

Satu elemen yang benar-benar tidak ada presedennya di K-13 adalah Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, atau P5.

Dalam K-13, pendidikan karakter disematkan ke dalam Kompetensi Inti 1 dan 2 (KI-1: sikap spiritual, KI-2: sikap sosial) yang terintegrasi di setiap mata pelajaran. Namun di lapangan, penilaian sikap ini sering direduksi menjadi pengamatan formalitas, apakah siswa mengucap salam, apakah ia mengerjakan tugas tepat waktu.

P5 mencoba hal yang berbeda. Sebesar 20 s.d 30% dari total jam belajar dialokasikan khusus untuk kegiatan berbasis projek dengan tema-tema kontekstual: kearifan lokal, gaya hidup berkelanjutan, kewirausahaan, hingga demokrasi dan kebhinekaan. Siswa tidak sekadar membaca tentang nilai-nilai itu, mereka mengalaminya melalui kerja nyata, kolaborasi, dan refleksi.

Apakah ini berhasil? Jawabannya bergantung pada kualitas desain projek di masing-masing sekolah. Namun setidaknya, ada upaya serius untuk mengubah pendidikan karakter dari sekadar formalitas menjadi pengalaman hidup.

Pages: 1 2 3 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *